Dalam kehidupan para remaja sering kali diselingi hal hal yang negative dalam rangka penyesuaian dengan lingkungan sekitar baik lingkungan dengan teman temannya di sekolah maupun lingkungan pada saat dia di rumah. Hal hal tersebut dapat berbentuk positif hingga negative yang serng kita sebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja itu sendiri merupakan perbuatan pelanggaran norma-norma baik norma hukum maupun norma sosial. Sedangkan Pengertian kenakalan remaja Menurut Paul Moedikdo,SH adalah :
1. Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya.
2. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat.
3. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
Adapun gejala-gejala yang dapat memperlihatkan hal-hal yang mengarah
kepada kenakalan remaja :
1. Anak-anak yang tidak disukai oleh teman-temannya sehingga anak tersebut menyendiri. Anak yang demikian akan dapat menyebabkan kegoncangan emosi.
2. Anak-anak yang sering menghindarkan diri dari tanggung jawab di rumah atau di sekolah. Menghindarkan diri dari tanggung jawab biasanya karena anak tidak menyukai pekerjaan yang ditugaskan pada mereka sehingga mereka menjauhkan diri dari padanya dan mencari kesibukan-kesibukan lain yang tidak terbimbing.
3. Anak-anak yang sering mengeluh dalam arti bahwa mereka mengalami masalah yang oleh dia sendiri tidak sanggup mencari permasalahannya. Anak seperti ini sering terbawa kepada kegoncangan emosi.
4. Anak-anak yang mengalami phobia dan gelisah dalam melewati batas yang berbeda dengan ketakutan anal-anak normal.
5. Anak-anak yang suka berbohong.
6. Anak-anak yang suka menyakiti atau mengganggu teman-temannya di sekolah atau di rumah.
7. Anak-anak yang menyangka bahwa semua guru mereka bersikap tidak baik terhadap mereka dan sengaja menghambat mereka.
8. Anak-anak yang tidak sanggup memusatkan perhatian.
Dengan sedikit pengertian kenalan remaja diatas membuat kita akan lebih mengerti akan sikap dan perilaku remaja kita apakah baik baik saja ataukah sudah mengarah pada suatu kenakalan remaja (http://psikonseling.blogspot.com/2010/02/pengertian-kenakalan-remaja.html).
Batasan dan Jenis Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan tindakan melanggar peraturan atau hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia 18 tahun.
Perilaku yang ditampilkan dapat bermacam-macam, mulai dari kenakalan ringan seperti membolos sekolah, melanggar peraturan-peraturan sekolah, melanggar jam malam yang orangtua berikan, hingga kenakalan berat seperti vandalisme, perkelahian antar geng, penggunaan obat-obat terlarang, dan sebagainya.
Dalam batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The Adolescence, terdapat dua kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:
1. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
2. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.
Keluarga yang Memicu?
Menurut Karol Kumpfer dan Rose Alvarado, profesor dan asisten profesor dari University of Utah, dalam penelitiannya, menyebutkan bahwa kenakalan dan kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja berakar dari masalah-masalah sosial yang saling berkaitan.
Di antaranya adalah kekerasan pada anak dan pengabaian yang dilakukan oleh orangtua, munculnya perilaku seksual sejak usia dini, kekerasan rumah tangga, keikutsertaan anak dalam geng yang menyimpang, serta tingkat pendidikan anak yang rendah.
Ketidakmampuan orangtua dalam menghentikan dan melarang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh anak remaja akan membuat perilaku kenakalan terus bertahan.
Faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan Alvarado, Minggu (23/1/2011)
1. Kurangnya sosialisasi dari orangtua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
2. Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
3. Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
4. Kurangnya disiplin yang diterapkan orangtua pada anak.
5. Rendahnya kualitas hubungan orangtua-anak.
6. Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
7. Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
8. Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
9. Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru.
10. Adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
Faktor lingkungan atau teman sebaya yang kurang baik juga ikut memicu timbulnya perilaku yang tidak baik pada diri remaja. Sekolah yang kurang menerapkan aturan yang ketat juga membuat remaja menjadi semakin rentan terkena efek pergaulan yang tidak baik.
"Guru yang kurang sensitif terhadap hal ini juga bisa membuat remaja menjadi semakin sulit diperbaiki perilakunya. Demikian juga dengan guru yang terlalu keras dalam menghadapi remaja yang bermasalah. Bisa jadi, bukannya ikut meredam kenakalan mereka, malah membuat kenakalan mereka semakin menjadi," ujar Prof. Arif Rachman, pakar pendidikan dari UNJ.
Sementara M Faisal Magrie, konsultan psikologi remaja dari Asosiasi Berbagi, menyatakan beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mencegah munculnya perilaku kenakalan pada anak remaja.
Menurut Faisal, mengasuh anak yang memasuki usia remaja dapat diandaikan seperti bermain layangan. "Apabila orangtua menarik talinya terlalu dekat, layangan itu tidak akan bisa terbang. Namun bila orangtua membiarkan talinya terlalu jauh, layangan tersebut akan putus karena angin yang kencang, atau hal lain seperti menyangkut di pohon," kata Faisal.
Begitu juga dengan anak remaja, jika orangtua terlalu mengekang anak, yang terjadi adalah anak tidak mampu berkembang secara mandiri dan mereka akan berusaha untuk melepaskan dirinya dari kekangan orangtua. Ketika hal ini terjadi, lingkungan sosial, terutama teman sebaya, akan menjadi pelarian utama si anak.
Apabila ternyata lingkungan sosial tempat anak biasa berkumpul memiliki kecenderungan untuk melakukan kenakalan remaja, anak juga berpotensi besar untuk melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan kelompoknya.
Hal yang sama juga dapat terjadi apabila orangtua terlalu membebaskan anak. Perbedaannya adalah, anak yang dibebaskan tidak merasakan tekanan sebesar apa yang dirasakan oleh anak yang dikekang, sehingga dorongan untuk memberontak cenderung lebih kecil dibandingkan anak yang dikekang.
Berikan batasan yang jelas.
Orangtua disarankan untuk memberikan batasan yang jelas mengenai perilaku apa yang benar-benar tidak boleh dilakukan oleh anak, misalnya membolos, menggunakan narkoba, dan lain sebagainya.
Berdiskusilah untuk tawar menawar.
Lakukan tawar menawar melalui diskusi mengenai perilaku lainnya yang dianggap berpotensi membuat anak menjadi nakal, seperti pulang malam, menginap, atau bahkan memilih pacar.
Biarkan anak menentukan standar moralnya sendiri.
Proses tawar-menawar akan merangsang anak untuk menentukan standar moralnya sendiri. Di sisi lain hal ini dapat membuat anak lebih menghormati orangtuanya karena telah diberikan kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri.
Aktif berkomunikasi dengan guru di sekolah.
Pengawasan dan pemantauan orangtua di rumah bisa dilengkapi dengan pengawasan dari guru di sekolah. Pemantauan terpadu ini akan memberikan banyak masukan yang menyeluruh bagi orangtua mengenai perilaku anaknya di luar rumah.
Tak Ada Kata Terlambat
Menurut Faisal, tidak ada kata terlambat dalam menangani anak remaja yang terlihat 'melenceng'. Karena di usia ini teman adalah segalanya bagi anak, ia dapat dengan mudah terpengaruh oleh teman-teman sebayanya.
Untuk mengatasi hal ini, tindakan yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan membuat kesan bahwa mereka bisa berdamai dengan pilihan anaknya. Dengan begini, orangtua tetap bisa mengawasi aktivitas dan pergaulan anaknya dengan pasif.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua berkaitan dengan hal tersebut. Ketika orangtua terlalu 'masuk' ke dalam kehidupan anak, pasti anak akan merasa terganggu privasinya. Ia akan merasa risih dan pada akhirnya justru bersikap tertutup kepada orangtuanya.
Untuk itu, orangtua harus mengusahakan agar tetap terlibat secara pasif, namun jangan sampai terkesan terlalu ingin ikut campur (http://www.detikhealth.com/read/2011/01/23/100537/1552483/1075/10-penyebab-kenakalan-remaja).
Sosialisasi Kenakalan Remaja
Kerja Bakti
Di Indonesia kerja bakti merupakan kegiatan yang tidak asing lagi. Dengan kerja bakti saling membahu para penduduk untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Dengan saling bahu membahu pekerjaan yang berat dapat menjadi ringan.
Klo dalam dunia pedesaan istilah kerja bakti mungkin bukan merupakan hal yang asing.
bahkan istilah tersebut telah menjadi keseharian yang sangat
umum dalam kehidupan sehari- hari masyarakat pedesaan.
Semangat yang tertanam dibalik istilah tersebut mengingatkan
diriku pada masa lalu dimana para tokoh kemerdekaan
menggunakan istilah ini untuk membangun semangat para
penduduk desa untuk membantu para pejuang yang
tengah mengadu nyawa di medan laga. Dengan kerja bakti
saling bahu membahu para penduduk menyediakan
kebutuhan logistik para pejuang kemerdekaan, selain itu para
penduduk ada juga yang merelakan nyawanya untuk
membantu berjuang melawan musuh. Pada jaman orde baru istilah kerja bakti juga sering dipakai, terutama TNI yang dulu istilahnya ABRI dengan programnya ABRI Masuk Desa. Para ABRI ini kerja bakti masuk desa untuk membantu
masyarakat pedesaan yang mungkin masih kekurangan
tenaga untuk melakukan pekerjaan semisal memperbaiki saluran air, membuat sumur
umum atau WC umum, bahakan membangun balai petemuan.
Kalo kita perhatikan suasana kerja bakti penuh dengan kekeluargaan. Tidak ada rasa
saling iri atau bahkan merasa tertekan dengan beban kerja
yang dilakukan, karena semuanya dilandasi dengan rasa
senang dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Lalu apa
yang menjadi masalah dengan semuanya itu? Adakah hikmah
lain dibalik istilah tersebut? Ternyata ada sisi lain dari istilah
kerja bakti. Penyalahgunaan pengertian dari istilah kerja
bakti telah membuat sebagian atau segelintir orang dengan
tega melakukan perbudakan antar sesama manusia. Dengan
tidak memperhatikan jerih payah yang dilakukan seseorang
dengan tanpa ada penghargaan yang berarti bagi manusia
tersebut. Sungguh kondisi yang sangat tidak masuk akal dan
cenderung tidak manusiawi. Dalam lingkungan pekerjaan
tentunya segala sesuatu boleh dibilang harus profesional.
Seseorang yang melakukan sesuatu kewajiban tentunya
mempunyai hak yang harusnya dipenuhi juga. Ternyata sampai
sekarang pengertian hak dan kewajiban yang harusnya bisa
dimengerti oleh para pengambil kebijakan dan pemegang
kekuasaan masih suka disalahgunakan. Kebanyakan
para pemegang kekuasaan masih suka memeras dan
menindas anak buahnya demi kepentingan pribadinya semata.
Tanpa mempunyai rasa belas kasihan (entah punya rasa belas
kasihan atau engga), para pemegang kekuasaan dalam
institusi pekerjaan tersebut terkadang malah memaksakan
sesuatu pekerjaan pada seseorang dengan imbalan yang
tidak sesuai dengan beban pekerjaan yang dia tangani.
Samapai kapan negeri ini akan dirundung kondisi yang demikian mengerikan.
Kerja bakti kali ini kami lakukan di kelurahan biraeng tepatnya RW 1 dan RW 2. Kami mahasiswa bersama-sama masyarakat.
Penyuluhan budidaya minapadi dan analisis pemasaran
Mina padi adalah salah satu tipe budidaya ikan di sawah dimana ikan dan padi ditanam secara bersama-sama. Untuk usaha ini tidak diperlukan kekhususan konstruksi sawah, hanya saja perlu dibuatkan kemalir (caren), yaitu semacam parit disekeliling dalam petakan sawah dengan diagonal atau menyilang pada petakan sawah. Kemalir ini berfungsi sebagai tempat berlindung ikan dan untuk memudahkan dalam pemanenan ikan. Budidaya Minapadi adalah budidaya terpadu yang meningkatkan produktivitas lahan sawah yang menghasilkan padi dan juga ikan. Banyak keuntungan yang didapat menggunakan teknik budidaya minapadi ini, antara lain yaitu:
1. Lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara
2. Mengurangi penggunaan pupuk.
3. Ikan dapat juga membatasi tumbuhnya tanaman lain yang bersifat kompetitor dengan padi dalam pemanfaatan unsur hara
4. Mengurangi biaya penyiangan tanaman liar
5. Meningkat produktivitas padi sebesar 10%
6. Dalam kajian ilmiah yang dilakukan oleh Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor menunjukan bahwa penerapan budidaya minapadi dapat meningkatkan pendapatan sebesar 20%
Budidaya minapadi juga merupakan solusi terbaik dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrim seperti saat ini. Teknik budidaya minapadi terdiri dari dua pola yang bisa dilakukan sekaligus dalam satu musim tanam, yaitu pola penyelang dan Pola tumpang sari. Metode penyelang pemeliharaan ikan di sawah menjelang penanaman padi, sambil menunggu hasil semaian padi untuk dapat ditanam. Pola tanam tumpang sari adalah pemeliharaan ikan/udang bersama padi pada satu hamparan sawah.
Jika dillihat berdasarkan data tahun 2009, produksi total budidaya minapadi terbesar adalah provinsi jawa barat sebesar 31.784 ton, provinsi jawa timur sebesar 11.879 dan Sumatera Selatan sebesar 10.660 ton. Budidaya minapadi sangat berkembang di pulau jawa dan sumatera namun pulau sulawesi mulai menunjukkan geliat perkembangan budidaya minapadi ini.
Teknik budidaya minapadi ini sebenarnya tidak sulit. Yang perlu diperhatikan dalam pembudidayaan ikan dengan teknik budidaya minapadi ini adalah jenis padi dari varietas unggul dan jenis ikan yang mempunyai daya serap dan nilai ekonomis tinggi. Pemilihan jenis ikan juga perlu memperhatikan ketersedian air, benih, pakan dan pangsa pasar dari ikan yang dipelihara.
Potensi pengembangan budidaya minapadi masih sangat luas. Data potensi yang dirilis oleh direktorat jenderal perikanan budidaya, secara nasional pemanfaatan lahan untuk budidaya minapadi hanya sebesar 127.944 hektare dari luas lahan potensial sebesar 1.538.379 hektare. Jadi tingkat pemanfaatan lahan untuk budidaya sawah baru sekitar 8,3 persen. Oleh karenanya, kementerian kelautan dan perikanan melalui ditjen perikanan budidaya kembali menggalakkan program budidaya minapadi untuk menunjang target produksi perikanan budidaya pada tahun 2014.





